Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW

Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW

8 tahun

Perkenalan dunia bisnis Rasuluallah dimulai ketika beliau masih berumur 8 tahun. Muhammad tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Walaupun menjadi ketua Suku Bani Hasyim, Abu Thalid hidup dengan sederhana. Bahkan, Nabi Muhammad belajar hidup mandiri dengan menggembala kambing di padang pasir. Dari hasil mengembala kambing itu beliau mendapat upah dari penduduk.

12 tahun

Nabi memulai belajar berdagang ketika berusia 12 tahun. Sang paman mengajak beliau ke Negeri Syam untuk ikut berdagang. Dari sini jiwa entrepreneuship Baginda Rasul mulai terasah. Beliau dan sang paman melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara, antara lain Syiria, Jordan dan Lebanon. Nabi cukup cerdas untuk menangkap peluang bisnis yang berkembang pesar di sana adalah perdagangan.

17-20 tahun

Nabi Muhammad mampu bersaing dengan pebisnis pebisnis senior tingkat regional Bukan sekadar pebisnis biasa, namun juga pebisnis kuat dan sukses.Mitra mitra kerja Nabi Muhammad mengakui bahwa beliau matang dalam perhitungan,jujur,professional. Sebenarnya tidak heran jika dalam diri Nabi Muhammad SAW bergelora jiwa bisnis. Ternyata, latar belakang keluarganya sendiri adalah pebisnis. Sejarah mencatat, empat orang putra Abdul Manaf (kakek dari kakeknya) adalah pemegang izin kunjungan danjaminan keamanan dari para penguasa dari negara-negara tetangga seperti Syiria, Iran, Yaman dan Etiopia. Mereka membawa kafilah-kafilah bisnisnya ke berbagai negara tersebut secara aman dan lancar.

25 tahun

Perjalanan waktu menunjukan,Nabi menjalankan kontrak syirkah (kerja sama) dengan system upah maupun bagi hasil (mudharabah) dengan Khadijah. Nabi Muhammad mendapat kepercayaan konglomerat Makkah, Khadijah, untuk menjalin kerja sama bisnis sebagai manajer bisnis. Gaji yang diterima Nabi Muhammad kala itu 4 ekor unta setiap bulan.

Masa dagang Nabi Muhammad menyusuri jalur dagang utam, antara lain Yaman, Syam melalui Madyan, Wadil Qura. Keuntungan yang didapat lebih besar dari kelompok dagang lain.

Belajar dari Konglomerat yang Dermawan.(Aburrahman bin ‘Auf)

Belajar dari Konglomerat yang Dermawan.(Aburrahman bin ‘Auf)

Al-asyaratul mubasyirin

 

Beliau adalah satu dari delapan orang pertama yang memeluk Islam. Dia adalah satu dari sepuluh orang (al-asyaratul mubasyirin) yang dipastikan memasuki surga. Pria ini adalah satu dari enam orang yang dipilih oleh Umar bin Khatab mem bentuk dewan syura untuk memilih khalifah setelah kematiannya.

Sebelum memeluk Islam orang mengen alnya sebagai Abu Amar. Tapi saat dia menerima Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman (hamba Allah yang pemurah). Abdurrahman men jadi seorang Muslim sebelum Nabi me masuki rumah al-Arqam. Dia menerima Islam dua hari setelah Abu Bakar ber syahadat.

 

 

Menjadi kaya dan dermawan

Kehidupan Abdurrahman bin ‘Auf di Madinah baik semasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam maupun sesudah wafatnya terus meningkat. Barang apa saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok perniagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridha Allah semata, sebagai bekal di alam baqa kelak.

Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang syubhat Seterusnya yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkah, karena labanya bukan untuk kepentingan pribadi tetapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya, pula digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam.

Seorang yang mengendalikan hartanya, bukan dikendalikan oleh hartanya

Sebagai bukti, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkan harta kemudian menyimpannya. Ia mengumpulkan harta dengan jalan yang halal.

Pernah suatu ketika datang sebuah rombongan dengan membawa 700 kendaraan yang berisi barang dagangan, yang mana seluruh isi muatan dan kendaraan diberikan di jalan Allah. Ya dialah, Abdurrahman bin Auf sang penderma, Subhanallah.  

 

ketika Kaum Muslimin hijrah ke Madinah, telah menjadi kebiasaan Rasul pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah.