Lima Gaya Umar Bin Khattab dalam Memimpin

Lima Gaya Umar Bin Khattab dalam Memimpin

Salah seorang warga, megingatkan Amirul Mukminin, “Takutlah engkau kepada Allah!” Dan, orang itu mengatakan berulang kali

Menjadi pemimpin bukanlah perkara mudah, selain dibutuhkan leadership, dalam Islam, pemimpin juga harus kuat iman dan takwanya, sehingga bisa menjadi teladan dan benar-benar bisa bekerja sebagai pelayan rakyat, bukan penikmat kekayaan rakyat.

Ketika seorang pemimpin tidak menguatkan iman dan takwanya, maka ia akan berada dalam situasi tertekan oleh berbagai kepentingan, pada saat yang sama rasa cinta terhadap kursi jabatan kian menguat.

Di saat seperti itulah biasanya seorang pemimpin tidak mau lagi berpikir lurus di jalan lurus. Akibatnya, segala macam kebijakannya senantiasa berbau rasionalisasi. Sebab, hakikatnya memang bukan rakyat yang mau dilayani, tetapi kekuatan lain yang sangat ditakuti. Di sinilah kemudian istilah pencitraan menjadi keniscayaan bagi mereka yang sangat berkeinginan dengan kursi jabatan.

Dalam bukunya, Khulafaur Rasul Shallallahu Alayhi Wasallam, Syeikh Khalid Muhammad Khalid menjabarkan dengan sangat gamblang bagaimana gaya kepemimpinan Umar Bin Khattab Radhiyallahu Anhu. Sosok pemimpin yang tidak melakukan banyak rekayasa pencintraan terhadap dirinya. Tetapi memang benar-benar hadir dan mensolusikan secara nyata setiap persoalan yang menimpa seluruh rakyatnya.

Pertama, Musyawarah

Dalam bermusyawarah, Umar Radhiyallahu Anhu tidak pernah memposisikan dirinya sebagai penguasa. Ia meletakkan dirinya sebagai manusia yang sama kedudukannya dengan anggota musywarah lain.

Ketika ia meminta pendapat mengenai satu urusan, ia tidak pernah menunjukkan bahwa ia adalah pemegang kekuasaan, bahkan Umar selalu menanamkan perasan bahwa mereka adalah guru yang akan menunjukkannya ke jalan kebaikan, menyelamatkannya dari kesengsaraan hisab di akhirat, karena mereka membantunya dengan pendapat-pendapat mereka untuk memperjelas kebenaran.

Kedua, ‘APBN’ untuk Rakyat

Semua kekayaan negara dipergunakan untuk melayani rakyat. Kala itu, sesuai kebutuhan zaman, Umar mendirikan tembok-tembok dan benteng untuk melindungi kaum Muslimin. Umar juga membangun kota-kota untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya.

Umar tidak pernah berpikir mengambil kesempatan atau keuntungan dari ‘APBN’ untuk kesenangan diri dan keluarganya. Malah Umar hidup dengan sangat zuhud, sehingga tidak tertarik dengan kemewahan, kenikmatan dan segala bentuk pujian manusia yang mudah kagum dengan harta benda.

Ketiga, Menjunjung tinggi kebebasan.

 Dalam satu muhasabahnya, Umar berkata pada dirinya sendiri, “Sejak kapan engkau memperbudak manusia, sedangkan mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?”

Menurut Umar, semua orang memiliki kemerdekaan sejak lahir ke dunia. Umar sama sekali tidak takut akan kebebasan bangsanya, tidak pula khawatir akan mengancamnya, bahkan ia mencintai kebebasan manusia itu sendiri, seperti cinta seorang yang mabuk kepayang serta menyanjungnya dengan penuh ketulusan.

Pemahaman kebebasan menurut Umar sangat sederhana dan bersifat universal. Kebebasan menurutnya adalah kebebasan kebenaran. Artinya, kebenearan berada di atas semua aturan. Kebenaran apa itu? Tentu kebenaran Islam, bukan kebenaran kebebasan yang disandarkan pada logika liberalisme.

Keempat, Siap mendengar kritik

Suatu hari Umar terlibat percakapan dengan salah seorang rakatnya, orang itu bersikeras dengan pendapatnya dan berkata kepada Amirul Mukminin, “Takutlah engkau kepada Allah.” Dan, orang itu mengatakan hal itu berulang kali.

Lalu, salah seorang sahabat Umar membentak laki-laki itu dengan berkata, “Celakalah engkau, engkau terlalu banyak bicara dengan Amirul Mukminin!”

Menyaksikan hal itu, Umar justru berkata, “Biarlah dia, tidak ada kebaikan dalam diri kalian jika kalian tidak mengatakannya, dan kita tidak ada kebaikan dalam diri kita jika tidak mendengarnya.”

Kelima, Terjun langsung mengatasi masalah rakyatnya

Sangat masyhur (populer) di kalangan umat Islam bahwa Umar adalah sosok pemimpin yang benar-benar merakyat. Tengah malam, saat orang terlelap, ia justru patroli, mengecek kondisi rakyatnya. “Jangan-jangan ada yang tidak bisa tidur karena lapar,” begitu mungkin pikirnya. [Baca: Belajar “Blusukan’ dari Umar Bin Khattab]

Begitu ia menemukan seorang ibu yang anak-anaknya menangis karena lapar, sedangkan tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak dan disuguhkan, dengan segenap daya Umar pergi ke Baitul Maal dan memikul sendiri sekarung gandum untuk kebutuhan makan keluarga tersebut.

Seperti itulah, setidaknya setiap pemimpin Muslim di negeri ini. Bekerja atas dasar iman, sehingga tidak ada yang didahulukan selain iman, takwa dan kesejahteraan rakyatnya. Ia ‘blusukan’ malam hari, bukan siang hari apalagi hanya sekedar dilihat orang.

Jika lima hal di atas mewujud dalam diri pemimpin hari ini dan semoga di masa mendatang, tentu bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, cerdas dan mandiri serta bebas dari intervensi pihak manapun juga. Semoga. Wallahu a’lam.

Sumber: https://www.hidayatullah.com

Kiat Sukses Manajemen Sumber Daya Manusia di Masa-Masa Awal Startup

Kiat Sukses Manajemen Sumber Daya Manusia di Masa-Masa Awal Startup

Masa-masa awal sebuah perusahaan startup adalah masa yang krusial. Banyak keputusan dalam fase ini bisa menjadi penentu hidup matinya perusahaan, bahkan hingga beberapa tahun ke depan. Semua harus dipikirkan matang-matang, mulai dari proses pengambilan visi, tahap pengembangan produk, hingga manajemen SDM startup.

Dalam acara Tech in Asia Meetup Jakarta yang berlangsung pada 27 April 2017 lalu, dua pakar dunia startup hadir untuk berbagi formula rahasia yang akan membantu manajemen perusahaan milik anda terutama di fase awal (jumlah karyawan kurang dari sepuluh orang). Mereka adalah Bernardus Sumartok, CEO dari Tripvisto, serta Agung Nugroho yang merupakan CEO dari Kudo. Apa saja ilmu yang mereka paparkan? Simak di bawah ini.


Kru pertama anda…adalah investor pertama anda

Berdasarkan pengalaman menjalankan startup yang telah tumbuh dari 2 orang ke 400 orang kru, Agung bercerita bahwa startup pasti akan menjalani tantangan yang berbeda-beda. Tapi pada pokoknya, ada empat hal di perusahaan yang harus selalu anda pikirkan, yaitu

people,

product,

process,

serta culture and communication.

People selalu nomor satu, karena tanpa people kita tidak bisa membangun apa pun,” kata Agung. Tergantung dari seberapa besar tim founder perusahaan anda, mungkin anda sudah punya tenaga untuk membuat produk dari awal.

Tapi bisa juga tidak.

Jadi anda perlu merekrut orang bahkan sebelum punya produk, atau yang disebut Agung sebagai “employee minus one”.

Anda sama sekali tidak boleh berkompromi saat melakukan perekrutan kru awal.

Berhati-hatilah saat merekrut,

bahkan bila perlu, cari tenaga hingga ke luar kota atau luar negeri sampai benar-benar menemukan yang ideal. Butuh waktu lama memang, Kudo pun harus menyeleksi hingga tiga puluh kandidat sebelum akhirnya merekrut kru. Tapi menurut Agung, hasilnya akan sebanding.

Agung memaparkan, “Tantangan awal startup yang masih kecil adalah bagaimana caranya membujuk seseorang untuk mengikuti mimpi Anda, dengan produk yang masih terbatas.

” Bahkan bukan hanya produk, dana milik anda pun masih terbatas. Bagaimana cara manajemen SDM startup merekrut tenaga yang ahli ketika kondisi finansial anda masih cukup rendah?

Di sinilah founder harus punya kemampuan untuk “menjual” mimpi dalam wujud yang nyata.

Bentuk nyata tersebut, kata Agung, salah satunya berupa penawaran kepemilikan saham perusahaan atau ESOP (Employee Stock Ownership Plan) bagi lima sampai sepuluh kru pertama.

Saat ini perusahaan anda mungkin belum memiliki nilai yang cukup tinggi, tapi bila mau tumbuh bersama, para calon kru ini kelak mendapat keuntungan dari saham yang lebih mahal.

Mereka tidak hanya datang sebagai karyawan, tapi juga ikut memiliki perusahaan layaknya investor.


Tugas sebuah tim adalah memenangkan pertandingan

“Banyak yang bilang startup itu keluarga. Jadi kalau ada kesalahan tidak berani pecat. Keluarga itu begitu kan, tidak mungkin misalnya anak dipecat dari keluarga.

Makanya saya lebih suka menganalogikan startup sebagai tim sepak bola,” demikian Sumartok bercerita.

People atau SDM memang merupakan unsur paling penting dalam startup, apalagi yang masih baru. Tapi terlalu memanjakan SDM juga bisa berdampak buruk.

Berbicara tentang tim sepak bola, Sumartok menjelaskan bahwa sejatinya tugas semua orang adalah sama. Tidak peduli posisinya, semua orang punya satu tugas: memenangkan pertandingan.

“Kalau bek hanya berjaga di depan gawang, lalu tidak menang, bagaimana? Percuma, kan?” ujar Sumartok.

Startup, terutama yang baru mendapat pendanaan, rawan tergiur oleh jebakan merekrut secara berlebihan. Karena ingin punya tim andal, tim manajemen SDM startup berlomba-lomba merekrut karyawan senior dari perusahaan lain.

Padahal esensinya bukan di situ.

“Kita seharusnya bukan membeli pemain, tapi membeli kemenangan. Tim yang semuanya rockstar belum tentu efektif, dan tidak efisien karena biayanya pasti tinggi sekali.”

Bagaimana caranya startup dengan dana pas-pasan bisa tetap menang?

Kuncinya ada di pola pikir memenangkan pertandingan tadi. Jangan merekrut orang yang hanya peduli pada pekerjaannya sendiri. Misalnya kru pemasaran yang tidak mau tahu kondisi selain target pemasarannya, atau programmer yang hanya mau melakukan coding tanpa mengurus hal lain.

“Bek itu tugasnya bukan menjaga gawang, tapi memenangkan pertandingan.”

” Untuk memastikan kemenangan, kadang dia terbirit-birit lari ke tengah, tidak cuma di belakang. Larinya dari ujung ke ujung, kadang jadi striker.”

“Itu semangat yang dibutuhkan di startup,” kata Sumartok.

Rekrutlah tenaga yang bisa membuat solusi, gesit, bisa multitasking, dan percaya pada visi perusahaan.


Manajemen SDM startup fokus pada solusi, bukan gengsi

Baik ketika merekrut karyawan atau mengembangkan produk, semua tim sama-sama harus ingat untuk fokus pada solusi, bukan sekadar gaya.

Mungkin anda tergiur untuk merekrut orang bergelar VP of Engineering dari perusahaan saingan, atau mungkin anda beranggapan bahwa produk milik anda harus menggunakan teknologi termutakhir di semua aspek.

Coba renungkan sejenak…… dan bertanya pada diri anda,

“Apakah semua itu perlu?

Tripvisto ketika baru mulai bahkan hanya menggunakan situs web berbasis WordPress. Sebagai penyedia layanan wisata, bagi mereka yang penting pelanggan bisa melakukan pemesanan dan pembayaran.

Begitu solusi sudah berjalan, baru dikembangkan lebih baik dengan teknologi.

Pada kasus perekrutan dalam manajemen SDM startup, menurut Sumartok, “Experience itu benar-benar overrated. Pengalaman dan titel-titel yang mentereng itu tidak dibutuhkan oleh startup baru.”

Malah ketika merekrut orang dari perusahaan besar, ia bisa tidak cocok dengan kultur startup kecil yang pas-pasan. Daripada fokus pada titel, lebih baik cari orang dengan kemampuan sesuai kebutuhan.

Bila terlanjur merekrut orang yang kurang tepat, jangan ragu-ragu melepaskannya.

Gunakan prinsip “hire slow, fire fast”.

Orang yang tidak cocok di perusahaan bisa menulari kenegatifan pada kru lainnya.

Tapi orang-orang hebat dan suportif akan menumbuhkan suasana menyenangkan yang membuat karyawan betah. Apalagi bila ditambah insentif sesekali, seperti acara makan-makan atau wisata bersama.


Utamakan kebaikan perusahaan

Di tengah proses perjalanan usaha, anda pasti akan mengalami berbagai masalah yang tak bisa dihindari.

Bentuknya bisa konflik personal antar para founder,

proses launching produk yang tidak mulus, atau apa pun.

Bila hal seperti ini terjadi, “Para founder harus memastikan bahwa semua hal tetap terkendali, bahkan bila peluncuran produk tidak berjalan baik,” kata Agung.

Para founder yang biasanya juga memegang manajemen SDM startup harus bisa meyakinkan kru bahwa meskipun produk tidak berjalan sekarang, visi mereka tetap sama dan bukan berarti gagal.

Produk adalah cara menggapai visi, bukan visi itu sendiri.

Evaluasi produk dengan cepat, dan luncurkan versi yang lebih baik sebelum moral para kru turun. Bila perlu, buka akses penjualan ke para karyawan agar mereka bisa memantau sendiri hasil kerja keras mereka.


Untuk startup di bidang AI, terapkan juga kiat-kiat berikut

Apa pun yang terjadi, founder harus berpegang teguh pada visi dan mengambil keputusan demi kebaikan perusahaan. Ini terkadang sulit dilakukan bila anggota perusahaanmu adalah teman atau keluarga yang punya hubungan dekat.

Tapi jadi founder perusahaan memang perlu keberanian. “Mendirikan perusahaan bersama itu sama seperti pernikahan. Biasanya konflik muncul awalnya dari ego. Karena itu, lepaskan ego anda,” kata Agung.

“Tidak boleh ada ego di dalam diri founder. Kalau memang anda harus turun membersihkan WC, lakukanlah.

Kalau anda harus ke lapangan hujan-hujan untuk mengajari sales leader pertama anda, lakukanlah.”

Pada kasus ekstrem, bila seorang co-founder harus dilepas demi kebaikan perusahaan, maka lakukanlah. Komunikasikan secara baik, dan jangan lupa membereskan semua masalah hukum atau keuangan terkait.


Buat aturan pertandingan sendiri

Dunia startup adalah dunia kompetisi dengan aturan yang tidak adil. Manajemen SDM startup yang diterapkan oleh kompetitor sukses belum tentu cocok juga untuk perusahaan anda.

Oleh karena itu, Sumartok berpesan,

“Jangan bermain dengan buku aturan milik kompetitor.”

Tidak perlu memaksakan untuk meniru kompetitor karena kondisi tiap perusahaan pasti berbeda. Kalau anda meniru startup lain, misalnya yang lebih besar atau baru mendapat pendanaan, bisa-bisa anda malah “bunuh diri” karena tidak punya sumber daya memadai.

Pada kenyataannya, startup memang lebih sering mati bunuh diri seperti ini daripada karena kalah kompetisi.

Tanamkan keinginan untuk menang yang kuat pada perusahaan anda, dan tetaplah konsisten mengejar standar kualitas yang tinggi.

Anda ada di sini tidak hanya untuk meramaikan suasana, tapi untuk menjadi juara, dan untuk menjadi juara, janganlah ragu untuk membuat aturan sendiri.

Sumber: https://id.techinasia.com

Muhammad Ali : Kutemukan perjuanganku di dalam Islam

Muhammad Ali : Kutemukan perjuanganku di dalam Islam

Kutemukan Perjuanganku di Dalam Islam

Keputusan Muhammad Ali untuk memeluk Islam banyak mempengaruhi jalan hidupnya sebagai petinju. 

Semula, Ali terlahir dengan nama Cassius Marsellus Clay pada 17 Januari 1942 dan beragama Nasrani. Ia memutuskan menjadi muslim ketika karier tinjunya tengah menanjak di tahun 1964.

Alasan Ali untuk masuk Islam terungkap lewat catatan yang diwariskan kepada istrinya, Belinda Boyd. Perempuan berusia 67 tahun itu, yang saat ini memakai nama Khalilah Camacho-Ali, memberikan sebuah catatan kepada Jonathan Eig, penulis buku autobiografi Ali yang berjudul “Ali”.  

Pada Rabu (25/10), Eig membawa catatan tersebut ke Museum Nasional Sejarah dan Budaya Afrika untuk diarsipkan. Eig menganggap catatan ini begitu penting bagi narasi sejarah keturunan Afrika di Amerika Serikat. 

Eig kemudian menuliskan pengalamannya di Washington Times tentang catatan Khalilah tersebut. Sisi spiritual sang legenda tinju Muhammad Ali, menurut Eig, bermula dari sebuah momen sederhana tanpa penafsiran muluk-muluk.

Dalam catatan tersebut, Ali bercerita bahwa suatu hari ia melihat kolom kartun dalam koran pagi yang menarik perhatian dirinya. Kolom kartun itu menunjukkan gambar seorang kulit putih memukul budak kulit hitam miliknya dan memaksanya beribadah seperti yang dijalani kebanyakan orang kulit putih. 

“Saya menyukai kartun tersebut. Pesannya masuk akal bagi saya,” tulis Ali.

Ali tidak mempermasalahkan ajaran Kristen yang dianut. Namun, yang mengusik pikirannya adalah proses yang membawanya menjadi pemeluk Kristen yang ditempuh dengan pemaksaan. 

“Lalu, dia merasa kenapa harus tetap menjaga sisa-sisa warisan zaman perbudakan? Bagaimana jika ia tidak memegang teguh agama dan namanya, apa lagi yang bisa ia ubah?” ungkap Eig tentang catatan-catatan Ali. 

See detail

Pada tahun 1964, Ali pun mengumumkan bahwa dirinya telah menjadi pemeluk Islam. Momen tersebut bersamaan dengan jadwal pertandingan perebutan gelar juara dunia kelas berat melawan Sonny Liston pada 25 Februari 1964 di Miami, Amerika Serikat. Saat itu, Ali yang masih berusia 22 tahun mampu mengambil sabuk juara dunia dari Liston yang 10 tahun lebih tua darinya. 

Selama di Miami, Ali tampak beberapa kali menghabiskan waktu bersama Malcolm X, aktivis demokrasi AS yang juga aktif di kalangan Islam. Mengutip History, konferensi pers di pagi hari setelah pertandingan menjadi momen bersejarah di mana Ali membenarkan kabar kepindahannya menjadi pemeluk Islam.

“Aku percaya pada Allad dan kedamaian,” ujar Ali. Ia selanjutnya menyatakan bahwa dirinya tidak ingin berada di lingkungan orang kulit putih atau menikahi perempuan kulit putih. “Aku tahu apa yang kulakukan. Aku tidak harus menjadi apa yang kalian inginkan, aku bebas menjadi apa yang aku inginkan,” paparnya kala itu. 

Saat itu nama Cassius Clay di dunia tinju telah cukup dikenal, namun akhirnya berubah menjadi Muhammad Ali. Perubahan nama ini disahkan oleh tokoh organisasi Muslim AS Elijah Muhammad pada 4 Maret 1964.

Kedekatan Ali dengan Elijah Muhammad meluruskan kabar kedekatan sang petinju dengan organisasi Nation of Islam. Nation of Islam sendiri merupakan gerakan Islam politik di AS yang mengusung gagasan pembebasan kulit hitam Muslim radikal. 

Ali bersinggungan dengan organisasi tersebut sejak tahun 1962. Malcolm X dan Elijah Muhammad, kedua tokoh ini dikenal sebagai orang yang telah membantu memperkenalkan Ali kepada Islam. 

Sejak berganti nama, kehidupan rohani Muhammad Ali menjadi perbincangan yang tidak kalah hangat dengan karier tinjunya. 

Namun, beberapa koran konservatif di Amerika Serikat masih menggunakan nama Carrius Clay Jr untuk memberitakan kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh Muhammad Ali. Meskipun telah jelas bahwa nama si legenda tinju itu telah berubah secara resmi. 

Prestasi Ali tidak bisa dipisahkan dari kehidupan pribadinya sebagai seorang Muslim. Ali tampak begitu ekspresif ketika muncul di media. Misalnya pernyataan ia terkait Perang Vietnam di mana Ali tidak merespons panggilan tugas militer pada 28 April 1967. 

“Saya tidak ingin menjadi aib bagi agama saya, orang-orang di sekitar saya, atau saya sendiri, dengan menjadi alat untuk melawan mereka yang berjuang untuk keadilan, kebebasan, dan kesetaraan yang menjadi haknya,” tegas Ali. 

See detail

Kehidupan rohaninya tak henti mendapat sorotan. Ali adalah petarung yang beringas di atas ring tinju, sekaligus juga seorang Muslim yang taat. Ia terus menekuni Islam di bawah lingkungan Nation of Islam. Hingga ia kemudian berkesempatan menunaikan haji ke tanah suci Mekkah pada 3 Januari 1972. 

Dalam wawancara pada tahun 1991, terungkap bahwa kematian Elijah Muhammad ikut mempengaruhi batin dan spiritualitas Ali. Sejak 1975, Ali kemudian berguru pada putra sekaligus penerus Elijah, Wallace Muhammad. Akan tetapi, bapak dan anak ini memiliki cara pandang berbeda.

Paradigma Wallace tidak seradikal ayahnya. Wallace mengajarkan Islam yang lebih moderat, menyatakan bahwa orang kulit putih tidak selamanya dipandang sebagai iblis.  

Ajaran ini kemudian membuat Ali jauh lebih lembut. Hingga kemudian membawa petualangan spiritual Ali lebih jauh lagi setelah ia dikabarkan mendalami Sufisme. 

Setelah 21 tahun bertarung di atas ring, karier tinju Ali berakhir di tahun 1981 dengan catatan 56 kali kemenangan dan lima kali kalah. Ali juga telah memperoleh sabuk juara dunia kelas berat sebanyak tiga kali. Catatan kehebatan karier tinju Ali ditambah dengan gaya bertarungnya yang khas. Hal-hal tersebut kemudian membuat ia memperoleh julukan “The Greatest” sebagai salah satu figur olahraga penting di abad 20. 

Ali meninggal pada 3 Mei 2016 di usia 74 tahun setelah berjuang melawan penyakit guncangan septik yang menderanya. Nama Muhammad Ali akan terus dikenang sebagai sebagai legenda tinju sekaligus tokoh muslim Amerika yang konsisten berjuang bagi kemanusiaan. 

Sumber: https://today.line.me/id

Melejitkan Potensi Diri, Meraih Kesempurnaan

Melejitkan Potensi Diri, Meraih Kesempurnaan

Melejitkan Potensi Diri, Meraih Kesempurnaan

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, tidaklah Alloh menurunkan baik di dalam taurat, di dalam Zabur, di dalam Injil, tidak juga di dalam Al Furqan (Al Quran) sebuah surat yang seperti ini, sesungguhnya ia adalah As Sab’ul Matsaani (Al Fatihah).” (Shahih, HR. Tirmidzi, 5/2875, disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi, lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hal 13)

Manusia itu memiliki dua potensi kekuatan: kekuatan ilmiah nazhariyah (pengetahuan dan pemikiran) dan kekuatan ‘amaliah iradiyah (perbuatan dan kehendak). Kebahagiaan yang sempurna bagi manusia sangat tergantung pada penyempurnaan kedua kekuatan ini; kekuatan ilmiah/pengetahuan dan kekuatan iradiyah/kehendak.

Kiat Menyempurnakan Kekuatan Ilmiah

Cara untuk menyempurnakan kekuatan ilmiah hanya bisa dilakukan dengan:

  1. Mengenali Zat Yang telah menciptakan dirinya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya.
  2. Mengetahui jalan yang bisa mengantarkan kepada-Nya.
  3. Harus mengerti berbagai rintangan jalan tersebut.
  4. Harus mengenali dirinya sendiri.
  5. Mengetahui aib-aib yang dimilikinya.

Dengan lima pengetahuan inilah seorang manusia akan bisa memperoleh kesempurnaan kekuatan ilmiah. Orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengerti dan paling paham tentang-Nya.

Kiat Menyempurnakan Kekuatan Amaliah

Sedangkan untuk menyempurnakan kekuatan amaliah iradiyah hanya bisa diraih dengan menjaga hak-hak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus ditunaikan hamba (tauhid dan taat) dan menegakkannya dengan ikhlas, shidq (jujur dan benar), penuh nasihat, ihsanmutaba’ah (mengikuti tuntunan) dan menyadari serta mengakui karunia Alloh kepada dirinya, menyadari kekurangan dirinya dalam menunaikan hak-hakNya. Sehingga dia pun merasa malu menghadap-Nya dengan pengabdian (yang kurang) seperti itu karena dia menyadari bahwa pengabdiannya itu belum bisa memenuhi hak-Nya sebagaimana seharusnya, bahkan jauh sekali di bawah semestinya.

Tanpa Pertolongan Alloh Itu Tak Mungkin Diraih

Tidak mungkin seorang manusia menempuh jalan untuk menyempurnakan kedua kekuatan ini kecuali dengan pertolongan Alloh. Allohlah yang memberikan hidayah kepadanya menuju jalan yang lurus/shirathul mustaqim; jalan yang diajarkan Alloh kepada wali-waliNya dan mereka mendapat keistimewaan dengan menempuhnya, Allohlah yang bisa menjauhkan dirinya dari melenceng keluar dari jalan tersebut. Penyimpangan dari jalan lurus itu bisa terjadi dengan rusaknya kekuatan ilmiahnya sehingga dia terjatuh dalam kesesatan. Atau juga penyimpangan itu terjadi karena rusaknya kekuatan amaliahnya sehingga dia berhak mendapatkan murka.

Maka kesempurnaan dan kebahagiaan insan tidak mungkin tercapai kecuali dengan terkumpulnya seluruh perkara ini tadi (kekuatan ilmiah dan amaliah serta pertolongan Alloh). Surat Al Fatihah telah mencakup perkara-perkara ini dan menatanya dengan sedemikian bagusnya.

Ushul Asma’ul Husna

Firman Alloh Ta’ala,

الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم. مالك يوم الدين

“Segala puji bagi Alloh Robb penguasa alam, Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang, Raja penguasa pada hari pembalasan.” (QS. Al Fatihah: 2-4)

Ayat-ayat ini mengandung landasan yang pertama yaitu mengenali Robb ta’ala, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Nama-Nama Alloh yang tercantum dalam surat ini adalah ushul asma’ul husna (pokok Asma’ul Husna) yaitu: Alloh, Ar Rabb dan Ar Rahman. Makna-makna semua Nama Alloh intinya berpusat pada nama-nama ini.

Nama Alloh mengandung sifat Uluhiyah. Alloh, dialah yang berhak dipertuhankan dan diibadahi, yang berhak diesakan dalam beribadah karena berbagai macam sifat ketuhanan melekat di dalam diri-Nya, dan itu semua merupakan sifat kesempurnaan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Nama Ar Rabb mengandung sifat Rububiyah. Rabbul ‘Aalamin artinya Zat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah Alloh kepada makhluk-Nya ada dua macam:

  1. Tarbiyah ‘aammah/umum
  2. Tarbiyah khaashshah/khusus

Tarbiyah Umum dan Khusus

Tarbiyah umum yaitu: penciptaan seluruh makhluk, pemberian rezeki kepada mereka, pemberian petunjuk guna mencapai kemaslahatan hidup mereka selama di dunia.

Sedangkan tarbiyah khusus adalah: tarbiyahNya kepada wali-waliNya. Wali Alloh adalah hamba-hambaNya yang beriman dan senantiasa bertakwa kepada-Nya.

Alloh mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuknya, menyempurnakan iman itu bagi mereka. Alloh menyingkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang menghalangi hubungan mereka dengan-Nya. Hakikat dari tarbiyah khusus ini adalah: tarbiyah taufik untuk bisa mencapai segala kebaikan dan terlindungi dari berbagai macam kejelekan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Nama Ar Rahman mengandung sifat ihsan, pemurah dan pemilik kebaikan. Ibnul Mubaarak rohimahulloh mengatakan, “Ar Rahman apabila diminta pasti memberi dan apabila tidak diminta akan murka.” Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh murka kepadanya.” (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 2418, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/27)

Inti Penghambaan

Firman Alloh ta’ala,

إيّاك نعبد و إيّاك نستعين

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)

Ayat ini mengandung keharusan mengetahui jalan yang mengantarkan kepada Alloh, jalan itu adalah dengan beribadah kepada-Nya saja dengan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi-Nya serta senantiasa memohon pertolongan-Nya dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan; yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan ibadah hanya akan dianggap/diterima sebagai ibadah apabila:

  1. Diambil dari tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
  2. Dikerjakan dengan niat mengharap keridhoan Alloh.

Disebutkannya ibadah sebelum isti’anah (minta tolong) demi mendahulukan hak Alloh atas hak hamba. Karena isti’anah itu sebenarnya termasuk ibadah, maka penyebutan isti’anah setelah ibadah dalam ayat ini merupakan penyebutan sesuatu yang lebih luas cakupannya sebelum sesuatu yang lebih sempit cakupannya.

Kenapa isti’anah disebutkan padahal isti’anah juga termasuk ibadah, jawabnya adalah: karena setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Alloh dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Jika seandainya Alloh tidak menolong dirinya niscaya dia tidak akan bisa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Shirathal Mustaqim

Firman Allah ta’ala,

اهدنا الصراط المستقيم

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6)

Ayat ini mengandung penjelasan bahwa seorang hamba tidak memiliki jalan untuk meraih kebahagiaannya kecuali dengan istiqomah meniti shirathal mustaqim, dan tidak ada jalan menuju istiqomah di atas shirathal mustaqim kecuali dengan hidayah dari-Nya.

Hakikat jalan yang lurus adalah: mengenali kebenaran dan mengamalkannya. Hidayah itu ada dua, hidayah ila shirath dan hidayah fii shirathHidayah ila shirath yaitu petunjuk menuju jalan yang lurus; tetap berpegang dengan agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya. Sedangkan hidayah fii shirathadalah petunjuk untuk bisa melaksanakan berbagai rincian ajaran agama Islam dengan bentuk ilmu dan pengamalan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Di dalam ayat ini juga terkandung bantahan bagi seluruh kalangan pembela kebid’ahan dan para pengibar bendera kesesatan, sebab setiap ahli bid’ah dan orang sesat adalah sosok yang menyimpang dari jalan yang lurus (lihat Taisir, hal. 40).

Bukan Yang Dimurkai dan Sesat

Firman Allah ta’ala,

غير المغضوب عليهم ولا الضالّين

“Bukan jalannya orang-orang yang engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” (QS. Al Fatihah: 6)

Ayat ini mengandung penjelasan dua sisi penyimpangan dari jalan yang lurus. Menyimpang ke sisi yang satu akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan yaitu rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan menyimpang ke sisi yang lainnya akan menjerumuskannya ke dalam kemurkaan yang timbul karena rusaknya niat dan amalan.

Orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran tapi justru meninggalkannya, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan/tidak mau tahu seperti yang terjadi pada orang-orang Nasrani (Taisir Karimirrahman, hal. 39).

Maka bagian awal dari surat ini mengandung rahmat, bagian tengahnya mengandung hidayah dan bagian akhirnya mengandung nikmat. Jatah nikmat hakiki yang diperoleh hamba itu sesuai dengan kadar hidayah yang diterimanya. Begitu pula jatah hidayahnya sesuai dengan kadar rahmat yang dianugerahkan kepadanya, sehingga urusan ini akhirnya semua kembali berpusat pada nikmat dan kasih sayang-Nya.

Sedangkan nikmat dan kasih sayang/rahmat merupakan salah satu bukti keberadaan sifat rububiyah Alloh, Dia tidak pernah lepas dari sifat penyayang dan pemberi nikmat, dan hal itu termasuk sebab yang mengharuskan penyembahan ditujukan kepada-Nya. Dialah sesembahan yang hak, walaupun orang-orang yang menentang bersikeras menentang-Nya dan orang-orang musyrik tetap bersikukuh dengan kesyirikannya.

Maka barang siapa merealisasikan makna-makna yang terkandung dalam surat Al Fatihah, mengilmuinya, mengetahui dan mengamalkannya, serta turut menciptakan keadaan yang diinginkannya, sungguh dia telah meraih kejayaan terbesar dengan amalnya dan Ubudiyah/penghambaannya (kepada Alloh) menjadi Ubudiyah khaashshah (penghambaan khusus) yaitu tingkatannya orang-orang yang diangkat derajatnya oleh Alloh di antara kalangan orang-orang awam yang beribadah. Wallohul musta’aan.

(Petikan Faedah Surat Al Fatihah)

Disarikan dari:

  1. Al-Fawaa’id, karya Al Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh.
  2. Taisir Karim ar-Rahman, karya Syaikh As Sa’di rohimahulloh.
  3. Beserta tambahan keterangan ulama yang lain.

***


Artikel www.muslim.or.id



Sumber :

 www.muslim.or.id

Di Balik Kemenangan Al-Fatih Atas Constantinopel

Di Balik Kemenangan Al-Fatih Atas Constantinopel

Saat berjalan menyusuri Istanbul, saya bersama Juliantono Hadi dan rombongan Manaya Indonesia, selalu mencari tahu informasi seputar Masjid Biru, Hagia Sophia sebagai ikon wisata sejarah dan peradaban Turki. 

Mencari buku, bertanya, sudah menjadi biasa bagi wisatawan. Apalagi, saat melihat peninggalan-peningglan yang menakjubkan, membuat semakin semangat untuk mengali informasi seputar Istanbul.

Yang paling menarik bagiku adalah informasi terkait dengan  kehebatan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel. Saya masih kurang percaya. 

Kehebatan Muhammad Al-Fatih tidak mungkin berdiri sendiri. Ternyata benar. Rupanya, memang ada orang lain yang sangat menentukan kehebatan Muhammad Al-Fatih di dalam menaklukkan Konstatinopel. Dialah sang motivator sejati, guru spiritual (pembimbing rohani) sang penakluk.

Motivasi Muhammad Al-Fatih dan Peranan Spiritual Sang Guru

Dalam catatan sejarah, sultan Muhammad Al-Fatih menang gemilang menaklukkan Al-Qostontoniyah (Konstantinopel) tanpa cacat sedikit-pun. 

Padahal, melihat kekuatan tentara, ekonomi, dan juga pendidikan serta peradaban masyarakat Binzatium, rasa-rasanya sangat sulit terkalahkan saat itu. 

Ketika saya menyaksikan puing-puing tembok benteng konstantinopel yang tebal, kuat, kokoh, hampir-hampir tidak ada satu-pun kekuatan yang mampu mengalahkannya pada waktu itu.

Apalagi, ketika menyaksikan bangunan megah Hagia Sophia yang sangat kokoh, dengan arsitektur khas Bizantium Romawi Kuno, semakin meneguhkan keyakinan ku, bahwa kala itu konstantinopel benar-benar kekuatan yang sangat dahsyat. 

Hagia Sophia menjadi saksi nyata, bahwa Islam itu ramah, dan Islam itu bukan agama yang merusak melainkan merawat peninggalan Konstatinopel. sekaligus menjadi simbol, bahwa Islam dan Kristen merupakan agama yang bisa hidup berdampingan.

Ketika Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Konstatinopel, itu merupakan capaian paling tinggi dalam sejarah Penakluk-kan Eropa. Pada umumnya, orang akan ter-kagum-kagum kepada Muhammad Al-Fatih. 

Saya-pun juga kagum saat melihat dari dekat. Kemenangan itu karena kerja keras, strategi Muhammad Al-Fatih. Motivasi yang tinggi, kerja keras di dalam mempersiapkan diri lahir dan batin, juga mempersiapkan pasukan agar bisa menaklukkan Konstantinopel benar-benar menjadikan kenyataan.

Allah SWT berkuasa atas segalanya “Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau mulia kan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu (QS Ali Imran (3:26).

Nah, Muhammad Al-Fatih memiliki seorang guru spiritual yang bernama Syekh Aaq Syamsuddin, beliau sekaligus sebagai penasihat khusus Muhammad al-Fatih. 

Beliau seorang sufi, tentu saja memiliki kecerdasan intuisi yang sangat tinggi, dibandingkan dengan orang awam pada umumnya. Imam Qusiri menyebut, orang-orang sufi sangat tajam intuisi nya (farrasah), ketimbang logikanya. Muhammad Al-Fatih mampu merasionalkan ketajaman intuisi sang guru.

Nama lengkap guru Muhammad Al-Fatih adalah Muhammad bin Hamzah al-Dimasyqi al-Rumi. Namun, beliau lebih populer dengan sebutan “Syekh Samsuddin”. 

Beliau lahir di kota Damaskus pusat kota Syiria (sekarang). Sedangkan nasab Syekh Samsudin nyambung dengan sahabat Abu Bakar al-Shiddiq r.a. Kaum Sufi dan Thariqoh, sebagian besar sanad-nya menyambung hingga Abu Bakar Al-Siddiq ra.

Peranan guru dan penasehat itu sangat menentukan masa depan seorang pemimpin. Kehebatan Muhammad Al-Fatih tidak lepas dari bimbingan sang guru Syekh Samsuddin. 

Imam Malik ra, berkata “sesungguhnya ilmu itu agama, maka lihatlah dari mana agama kalian dapatkan”. Muhammad Al-Fatih menang, karena bimbingan seorang guru yang membimbing setiap langkahnya untuk mendapat ridho Allah SWT”.

Muhammad Al-Fatih sukses menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1435 M. semua itu tidak lepas dari bimbingan rohani dan spiritual Syekh Syamsuddin. 

Setiap langkah dan gagasan Muhammad Al-Fatih, selalu mendapat bimbingan dari Syekh Samsuddin. Sekecil apapun, tindakan Muhammad Al-Fatih dalam urusan pemerintahan, lebih-lebih urusan ibadah selalu di diskusikan dengan sang Guru.

Pada usia yang sangat relatif muda, kira-kira usia 25 tahun, Muhammad al-Fatih sudah mampu membangkitkan semangat pasukannya untuk menaklukkan pasukan paling besar yang tidak pernah terkalahkan oleh siapapun. 

Sultan Al-Fatih mampu meyakinkan kepada pasukannya mampu menaklukkan Konstatinopel kemana-pun pergi, Syekh Samsuddin selalu mendampinginya Muhammad Al-Fatih.

Syekh Samsuddin telah memprediksi, bahwa Muhammad Al-Fatih-lah, orang yang bisa mengalahkan Bizantium. Syekh Samsuddin mampu menganalisis hadis Rasulullah SAW. 

Tanda-tanda yang melekat pada diri Muhammad Al-Fatih sudah terang untuk mewujudkan prediksi Rasulullah SAW yang berbunyi ” Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (khalifah) adalah amir (khalifah) yang memimpin penaklukkannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR Bukhari).

Seorang guru, akan selalu memberikan motivasi yang terbaik untuk santri nya. Biasanya, seorang guru akan terus mengatakan “Sesungguhnya Allh SWT tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar-Ra’du(13:11). Dengan harapan, semangat santri tak pernah berhenti di dalam meraih cita-citanya yang sangat tinggi.

Tidak dipungkiri, tidak ada satu kekuatan-pun, melebihi kekuatan Allah SWT. Orang-orang yang bisa mengintip rahasia Allah, salah satunya adalah kaum sufi. 

Sehari-harinya, mereka menghabiskan waktunya mengabdi kepada Allah SWT. Kaum sufi, tidak pernah mengotori lisan dan hati dengan dzikir kepada Allah SWT. 

Juga, tidak mengotori lisan dan perbuatan dengan perkara yang dilarang Allah SWT. Mereka mampu membaca aura kekuatan, serta memprediksi masa depan. Kemenangan Muhammad Al-Fatih, tidak lepas dari peran sang Guru yang melihat potensi Muhammad Al-Fatih, dialah orang yang dijanjikan bisa menaklukkan Konstantinopel.

Sumber: https://www.kompasiana.com

Metode Kepemimpinan Abu Bakar ash Sidiq

Metode Kepemimpinan Abu Bakar ash Sidiq

Khulafaur Rasyidin adalah pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad saw wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah pemerintahan yang demokratis.

Nabi Muhammad saw tidak meninggalkan wasiat mengenai siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau wafat. Beliau nampaknya menyerahkan persoalan itu kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balaikota Bani Sa’idah tepatnya di Madinah, mereka bermusyawarah menentukan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot sebab masing-masing pihak baik Muhajirin atau Anshar sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun dengan semangat ukhuwah Islamiyah tinggi, akhirnya Abu Bakar yang terpilih.

Semangat keagamaan Abu Bakar memperoleh penghargaan tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya. Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, maka Abu Bakar disebut Khalifah Rasulullah (Pengganti Rasul). Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.

 Setelah selesai orang membaiat, Abu Bakar pun berpidato sebagai sambutan atas kepercayaan orang banyak kepada dirinya, penting dan ringkas : “Wahai manusia, sekarang aku telah menjabat pekerjaan kami ini, tetapi bukanlah aku orang yang lebih baik dari pada kamu. Jika aku lelah berlaku baik dalam jabatanku, sokonglah aku, tetapi kalau aku berlaku salah, tegakkanlah aku kembali, kejujuran adalah suatu amanat, kedustaan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, pada sisiku hanyalah lemah, sehingga hak si lemah aku tarik dari padanya. Orang yang lemah di sisimu, pada sisiku kuat, sebab akan ku ambilkan dari pada si kuat akan haknya, Insyaallah. Janganlah kalian suka menghentikan jihad itu, yang tak akan ditimpa kehinaan. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi kalau aku melanggar perintah-Nya, tidak usahlah kalian taat dan ikut aku lagi. Berdirilah sembahyang, semoga rahmat Allah meliputi kamu.

” Pemerintahan Abu Bakar adalah pemerintahan pertama yang mengobarkan peperangan dan memepersenjatai bala tentara untuk membela hak-hak kaum kafir yang lemah. Dalam hal ini Abu Bakar sangat di kenal dengan sebuah ungkapannya sekaligus yang menjadi komitmennya : “Demi Allah jika mereka tidak mau membayar zakat dari harta yang mampu mereka bayar , padahal (dahulu) mereka membayarkannya kepada Rasulullah SAW. Maka niscaya aku akan memerangi mereka.”

Abu Bakar yang memulai penakhlukan dan perluasan Islam pada masanya, Islam mampu menakhlukan Persia dan Romawi, bahkan beliau meninggal pada saat perang yarmuk melawan imperium Romawi. Dalam setiap peperangan yang diperintahkan beliau adalah selalu menanamkan nilai-nilai etika yang berdasar al Qur’an dan as sunnah. Beliau mewasiatkan pada kaum Muslimin : “Janganlah sekali-kali membunuh pendeta biarlah mereka melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan mereka.

Abu Bakar menjadi khalifah hanya selama dua tahun, pada tahun 634 M beliau meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah, mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad saw dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, maka Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid bin Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.

Kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasulullah saw, bersifat sentral : kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad saw, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.

Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai al Hirah pada tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat jenderal yaitu Abu Ubaidah, Amr ibnu ‘Ash, Yazid ibnu Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibnu Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, dia sampai ke Syria.

Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. beliau diganti oleh “tangan kanan”nya, Umar bin Khattab. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, dia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, lalu mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar itu ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Dia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (Komandan orang-orang yang beriman).

Abu Bakar ash Sidiq juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis al Quran. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar ash Sidiq lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari al Qur’an. Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal al Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, lalu disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar bin Khattab dan juga istri dari Nabi Muhammad saw. Kemudian pada masa pemerintahan Ustman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur’an hingga yang dikenal hingga saat ini

Sumber: http://kisahimuslim.blogspot.com

Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq

Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq

Sepeninggal Rasulullah Saw, ada yang menjadi khalifah, pengganti Rasulullah Saw dalam kepemimpinan umat, dalam rangka menjalankan pemerintahan dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.

Dari merekalah kita bisa memperoleh banyak pelajaran bagaimana meneladani Rasululah Saw dalam masalah kepemimpinan dan pemerintahan.

Tulisan ini menguraikan sosok kepemimpinan salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang paling utama, pengganti beliau Saw mengimami sholat, dan pengganti beliau Saw dalam kepemimpinan negara dan umat Islam sepeninggal beliau Saw, yakni Khalifah Abu Bakar As Shiddiq r.a. Cerdas, Supel, Jujur Dan Berani Dakwah Abu Bakar ini cukup efektif.

Mengingat ia adalah seorang Quraisy yang yang supel dalam pergaulan, disukai dan diterima, seorang pebisnis, berbudi pekerti baik. Orang-orang biasa datang padanya dan bergaul dengannya untuk banyak urusan lantaran ilmu yang dimilikinya, bisnisnya, dan baik pergaulannya.

Sejumlah sahabat yang masuk Islam di tangan Abu Bakar antara lain adalah Utsman bin Affan r.a., Zubair bin Awwam r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Saad bin Abi Waqash r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a. Abu Bakar r.a. adalah orang yang cerdas, mudah mengerti dakwah yang disampaikan Rasulullah Saw sehingga ia pun cepat membenarkan dan meyakini apa yang dikatakan beliau Saw dan masuk Islam.

Ibnu Hisyam mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar as-Sidiq

“Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam melainkan ia tidak langsung menjawab, masih pikir-pikir, dan masih ragu-ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. Tatkala aku berbicara dengannya, ia tidak menunda-nunda (pembenarannya) dan ia tidak ragu-ragu.”.

Tatkala Nabi Saw diperjalankan oleh Allah SWT dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak sedikit orang yang langsung menolak kabar dari beliau mentah-mentah, bahkan ada sebagian kaum muslimin yang murtad, atau masih ragu-ragu, Abu Bakar secara cerdas membenarkannya dan mengatakan:

“Jangankan kabar dari Muhammad Saw bahwa di berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqshaa, sedangkan kabar yang diperolehnya dari langit dalam sekejap saja saya terima.”

Dengan keyakinan itu pula Abu Bakar siap dibina dengan Islam dan siap berjuang untuk Islam. Abu Bakar berani dan siap mengambil resiko berhadapan dengan Quraisy dalam mendakwahkan Islam. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah menuturkan: Tatkala Rasulullah Saw melaksanakan perintah Allah SWT untuk memperkenalkan kelompok dakwahnya secara terang-terangan (lihat QS. Al Hijr … ), dengan cara membentuk dua barisan yang dikepalai Hamzah r.a. dan Umar r.a. menuju Ka’bah, maka di situlah, di depan perwakilan para kabilah di Makkah, Abu Bakar r.a. berpidato.

Dan orang-orang Quraisy pun memukulinya sampai mukanya babak belur dan pingsan. Namun setelah siuman, yang ditanyakan pertama kali adalah: Bagaimana keadaan Rasulullah? Pantaslah ia mendapatkan gelar As Shiddiiq, artinya yang lurus, yang benar, yang membuktikan kebenaran ucapannya dengan perbuatan.

Pidato Pertama Sebagai Khalifah Pertama Setelah pembaiatan Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah, beliau r.a. berpidato: “Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian.

Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat pada Allah dan Rasul-Nya.” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam).

Pidato khalifah Abu Bakar r.a. di atas menunjukkan bahwa beliau sebagai khalifah tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang suci yang harus diagung-agungkan.

Tak ada dalam kamus beliau: The chaliphate can do no wrong!

Beliau justru mengedepankan supremasi hukum syariah, dan menjadikan loyalitas dan ketaatan warga negara padanya adalah satu paket dalam ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Beliau menjadikan syariah Allah sebagai standar untuk menentukan benar dan salah yang harus diikuti tidak hanya oleh rakyat, tapi juga oleh penguasa.

Apa yang beliau nyatakan di atas jelas adalah pengejawantahan dari pemahaman beliau pada firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kalian berlainan pendapat mengenai sesuatu, maka kembalikanlah dia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisaa’ : 59).

Juga adalah refleksi dari pemahaman beliau kepada hadits Rasulullah Saw: “Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada Allah, dan tidak ada ketaatan kepada orang yang maksiat kepada siapa saja yang berbuat maksiat.” [HR. Ahmad, Hakiem, dan Abu Dawud].

Lembut Tapi Tegas Sejak sebelum Islam Abu Bakar r.a. terkenal sebagai orang baik, lembut hatinya, gemar menolong dan suka memberi maaf. Dan setelah Islam dan berkuasa sebagai khalifah pengganti Rasul dalam kepemimpinan negara dan umat, tentunya tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang betul-betul memahami sabda Rasulullah Saw: “Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan pemerintahan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepadanya.” [HR. Muslim].

Namun sebagai Khalifah, beliau wajib memerintah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, dan wajib menjaga agar supremasi hukum syariah tetap terjaga. Oleh sebab itu, dalam rangka mempertahankan kedaulatan hukum syariah, tidak segan-segan beliau mengambil tindakan tegas bagi siapa saja yang hendak merobohkannya. Ini seperti yang beliau lakukan kepada sebagian kaum muslimin yang murtad dan tidak mau membayar zakat begitu mendengar berita wafatnya Rasulullah Saw.

Sekalipun para sahabat yang diminta pendapatnya masih mentolerir tindakan orang-orang yang tidak mau membayar zakat itu selama mereka masih sholat, namun Khalifah Abu Bakar tetap dalam pendiriannya.

Di hadapan kaum muslimin beliau berpidato: “Wahai kaum muslimin, ketahuilah saat Allah mengutus Muhammad, kebenaran itu (Al Islam) selalu diremehkan orang dan Islam dimusuhi sehingga banyak orang yang enggan masuk Islam sebab takut disiksa. Namun Allah lalu menolongnya sehingga seluruh bangsa Arab dapat disatukan di bawah naungannya.

Demi Allah, aku akan tegakkan agama ini dan aku akan berjuang fi sabilillah sampai Allah memberikan kemenangan atau Allah akan memberikan surga bagi orang yang terbunuh di jalan Allah dan akan memberi kejayaan bagi orang yang mendapatkan kemenangan sehingga ia akan dapat menjadi hamba yang berbakti dengan aman sentausa.

Demi Allah, jika mereka tidak mau membayar zakat, meskipun hanya seutas tali, pasti akan aku perangi meskipun jumlah mereka banyak sampai aku terbunuh, sebab Allah tidak memisahkan kewajiban zakat dari kewajiban sholat.” (lihat Al Kandahlawy, Hayatus Shahabat, juga Kanzul Ummal).

AMAL SALEH MEMBANTU MENDATANGKAN KEBERKAHAN​

AMAL SALEH MEMBANTU MENDATANGKAN KEBERKAHAN​

Amal Saleh Membantu Mendatangkan Keberkahan

Tiada kenikmatan, apapun wujudnya yang dirasakan menusia, melainkan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas dasar itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan manusia untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Dengan cara senantiasa mengingat bahwasanya kenikmatan tersebut datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, diteruskan mengucapkan hamdalah, dan selanjutnya menafkahkan sebagai kekayaannya di jalan-jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang telah mendapatkan taufik untuk bersyukur, ia akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa melipatgandakan kenikmatan baginya.

Bersyukur atas segala nikmat dari Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (Ibrahim : 7)

Pada ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri” (An-Naml : 40)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata :”Manfaat bersyukur tidak akan dirasakan, kecuali oleh pelakunya sendiri. Dengan itu, ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari nikmat yang telah ia dapatkan, dan nikmat tersebut akan kekal dan bertambah. Sebagaimana syukur, juga berfungsi untuk mengikat kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum dicapai”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) : “Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugrahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsel (cemara) dan pohon bidara” (Saba : 15-16)

Tatkala bangsa Saba’ masih dalam keadaan makmur dan tenteram, Allah subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan kepada mereka agar bersyukur. Ini menunjukkan, dengan bersyukur, mereka dapat menjaga kenikmatan dari bencana, dan mendatangkan kenikmatan lain yang belum pernah mereka dapatkan.

Membayar Zakat (Sedekah)

Zakat, baik zakat wajib maupun sunnah (sedekah), merupakan salah satu amalan yang menjadi faktor yang dapat menyebabkan turunnya keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Al-Baqarah : 276)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” (Muttafaqun alaih)

Bekerja Mencari Rizki Dengan Hati Qona’ah, Tidak Dipenuhi Ambisi dan Tidak Serakah

Sifat qona’ah dan lapang dada dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan kekayaan yang tidak ada bandingannya. Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qona’ah, dan keridhaan dengan segala rizki yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Al-Munawi rahimahullah menyebutkan : “Penyakit ini (yaitu tidak puas dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya, pent) banyak dijumpai pada pemuja dunia. Hingga engkau temui salah seorang dari mereka meremehkan rizki yang telah dikaruniakan untuknya ; merasa hartanya sedikit, buruk, serta terpana dengan rizki orang lain dan menganggapnya lebih bagus dan banyak. Oleh karena itu, ia akan senantiasa membanting tulang untuk menambah hartanya, sampai umurnya habis, kekuatannya sirna; dan ia pun menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yang digapainya dan rasa letih. Dengan itu, ia telah menyiksa tubuhnya, menghitamkan lembaran amalannya dengan berbagai dosa yang ia lakukan demi mendapatkan harta kekayaan. Padahal, ia tidak akan memperoleh selain apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya, ia meninggal dunia dalam keadaan pailit. Dia tidak mensyukuri yang telah ia peroleh, dan ia juga tidak berhasil menggapai apa yang ia inginkan”

Oleh karena itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa menjaga kehormatan agama dan diri dalam setiap usaha yang ditempuhnya guna mencari rizki. Sehingga, seorang muslim tidak akan menempuh, melainkan jalan-jalan yang telah dihalalkan dan dengan telah menjaga kehormatan dirinya.

Sumber : https://www.kompasiana.com/